Terpaku diriku dalam lamunan, sejenak merenungkan seorang lelaki tua yang dahulu duduk sendiri dalam sepi, di bangku taman yang tengah ku duduki ini. Kusaksikan hal tersebut selama seminggu sepulang sekolah, setahun yang lalu.
Aku memang selalu melintasi daerah tersebut setiap siang sepulang sekolah, satu satunya jalan pulang menuju rumahku yang terletak di perumahan belakang taman tersebut hanyalah jalan tersebut.
Kulihat tugu tua di mana seingatku lelaki tua itu terkadang berdiri di bawahnya seraya memandangi puncaknya dengan tatapan hampa. Aku tidak mengetahui alasan sang lelaki tua melakukan hal tersebut kala itu. Namun, karena begitu besarnya keinginan diriku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya membuatku mencoba mengikuti apa yang di lakukan sang lelaki tua, memandangi puncak tugu tersebut. Aku melakukan hal tersebut pada mulanya hanya untuk mengetahui alasannya.
Terus kupandangi tugu itu, seraya memikirkan apa yang ada di benak lelaki tua tersebut, hingga akhirnya aku menyadari bahwa tugu tersebut adalah sebuah tugu penghias taman makam yang tidak terperhatikan lagi. Terdiam diriku, begitu sering kulintasi taman itu, baru sekarang aku menyadari taman tersebut adalah sebuah taman makam.
Kucoba mengingat hari-hari pertemuan diriku dengan sang lelaki tua, seraya terus menyusuri taman tersebut. Secara tak sadar aku terlarut dalam lamunanku tentang dirinya.
Kala itu sang lelaki tua yang masih tampak terlihat gagah meski telah mulai di makan usia itu sering menatap keadan anak-anak sekolah dan remaja di sekitar taman tersebut.
Pernah suatu hari, kusaksikan lelaki tersebut memandangi seorang anak berseragam SD. Anak itu berkata pada ayahnya “Pak, mengapa negara kita tidak bisa sehebat Amerika pak?”. Sang ayah pun menjawab dengan senyuman dan berkata “Adinda sayang, mungkin saat ini Indonesia belum bisa sebaik Amerika, karena generasi muda di negara kita belum mampu berjuang dengan hati yang tulus suci Adinda, makanya kamu belajar dengan baik agar bisa menjadikan Indonesia negara yang besar”
Tersenyum sang lelaki tua seraya bersyair ;
Sayu sang sang bayu
Helah tiada biru
Bagai tiada berpadu
Lenyap, larut dalam kalbu
Begitu lelah jiwaku
Tatkala menatap negriku
Mengapa negriku
Tak mampu terus bersatu
Seringkali negriku
Menangis dengan pilu
Adakah arti sumpah itu
Adakah makna janji itu
Kini kian berlalu
Semangat pemuda dahulu
Mengapa!
Dalam hati aku berfikir “apakah lelaki tua itu sudah gila, berkata tidak jelas tanpa sebab yang dapat kuterima dengan akal”. Namun sesaat berlalu, kuresapi ucapan itu, aku merenung mengapa lelaki tua itu bersyair bagai terpasung dalam kesedihan. Kucoba menyelami syair tersebut, hingga akhirnya setelah tak kulihat lagi lelaki tua itu berada di sekitarku, aku mulai mengerti pesan tersirat dalam syair tersebut. Beberapa hari yang akan datang, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kucintai ini akan memperingati sumpah pemuda, suatu sumpah yang mulai memudar maknanya saat ini, begitu fikirku saat itu.
Dua hari berselang setelah kulihat lelaki itu bersyair, kudapati lelaki tua tersebut memandangi seorang remaja berandal yang memang cukup aku kenal, karena dia adalah warga sekitar taman yang sering kulalui tersebut, yang menjadi berandal dikarenakan perceraian orang tuanya.
Kala itu, kudengar berandal itu mengucapkan kata yang semestinya tidak layak terucap di tempat umum yang sering di lalui anak anak sepulang sekolah. Setelah aku mengamati, aku baru tahu ternyata dia tengah mencaci seorang pengendara sepeda motor yang telah berlalu menjauhi remaja berandal tersebut. Awalnya aku hampir tidak memperdulikan kejadian tersebut karena aku menganggap hal tersebut bukan hal yang aneh. Karena menurutku hal itu adalah hal yang biasa di lakukan oleh seorang berandal seperti remaja tersebut. Namun begitu aku ingin berlalu, sepintas kulihat sang lelaki tua tersenyum seraya menunjuk ke arah berandal tadi yang akhirnya membuat diriku mengalihkan kembali perhatianku pada remaja itu.
Kuamati remaja yang terkesan acuh itu, kulihat dia tengah menolong wanita tua, termenung diriku, sesaat kemudian kudekati dan kubantu menolong wanita tua itu. Walau di sertai rasa takut jikalau si pemuda berandal tersinggung, akhirnya kuberanikan juga menanyakan apa yang terjadi pada wanita tersebut.
Dengan nada kesal berandal tersebut menjawab “Pengendara motor tadi telah menabrak wanita ini, bukannya berhenti untuk membantu wanita ini dia malah pergi meninggalkan begitu saja. Untung saja wanita ini tidak luka serius”.
Terdiam batinku untuk kedua kalinya, aku mengerti sekarang mengapa lelaki tua itu mengamati berandal itu dengan seksama. Aku tersadar bahwa diriku telah salah menilai berandal tadi. Aku telah berprasangka buruk padanya, aku menyangka berandal tadi mencaci karena ingin mencari masalah dengan orang lain, namun pada kenyatannya berandal tadi mencaci dikarenakan kesal kepada pengendara motor tadi yang tidak bertanggung jawab setelah menabrak wanita tua tadi.
Kucoba merenung sejenak, kupahami dan kusadari, kita tidak dapat menilai orang hanya dari luar saja, melainkan kita harus menyelami jiwa dengan tidak berprasangka buruk untuk mengetahui apa yang sesungguhnya tersimpan dalam benak orang tersebut.
Pengendara motor yang baru saja menabrak wanita tersebut, apabila di lihat sepintas dari pakaian dan kendaraannya, dia adalah seorang lelaki yang baik hati yang berhati mulia, namun tiada kusangka ternyata dengan penampilan yang begitu rapi, dia tidak mampu untuk memberanikan diri bertanggung jawab, setelah menabrak wanita tersebut.
Berbeda dengan pemuda berandal yang sepintas terlihat tidak peduli dan terkesan jahat. Aku tidak menyangka berandal tersebut yang malah menolong wanita tadi dan marah kepada pengendara sepeda motor yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Hingga akhirnya pada hari terakhir pertemuanku dengan lelaki tua tersebut kala sepulang upacara peringatan sumpah pemuda setahun lalu aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Kucoba mengajak sang lelaki tua itu berbicara. Kucoba memperkenalkan diri dengan cara paling sopan yang mampu aku lakukan. “Pagi Pak, apa kabar? Nama saya Farid, kalau saya boleh tahu nama Bapak siapa? Sebelumnya saya mau minta maaf Pak, saya sudah lancang, karena terkadang saya suka memperhatikan Bapak.”
Lelaki tua itu menjawabnya dengan senyum seraya berkata “nama kamu Farid ya? nama Bapak, Benjamin Effendie, cukup di panggil Pak Ben. Farid, Pak Ben malah senang kalau kamu bisa memperhatikan Pak Ben.”
Kemudian lelaki tua itu berkata;
Farid, cobalah kamu melihat sekitar, kita belum dapat menjadikan negara kita menjadi negara terbaik, apabila dalam hati para pemuda Indonesia tiada mampu berjuang sekuat tenaga dengan hati tulus ikhlas. Belum lagi sekarang sudah begitu banyak bermunculan peristiwa peristiwa yang menyayat hati bapak, begitu banyak perkelahian antar pelajar, kerusuhan saat para pemuda melakukan demonstrasi, namun bukan hanya itu saja yang melukai Pak Ben, yang lebih membuat kakek sedih adalah banyaknya pergaulan bebas dan pemakaian narkoba oleh pemuda Indonesia, bapak sedih nak.mengapa begitu banyak remaja sekarang terjerumus ke dalam dunia hitam yang secara tidak langsung merusak negara kita, Pak Ben tidak rela barang sedikit pun.
Tak terasa air mata sang lelaki tua tadi menetes membasahi wajahnya yang sebelumnya tampak tegar.
“Pak Ben jangan sedih ya” jawabku singkat.
“Bagaimana Pak Ben tidak sedih melihat keadaan negara yang sejak dahulu saya mimpikan ini?”.
Beranjak lelaki tersebut dari tempat duduknya, sepintas kemudian tersenyum sambil menunjuk makam belakang taman.
Terdiam diriku, kurasakan senyum yang begitu tulus dari dasar hati yang menghiasi wajahnya, teriris bainku tatkala kulihat wajah terluka yang menatap hampa dunia.
“Kini Pak Ben tenang, Pak Ben berharap, suatu saat kamu dapat mengerti apa yang ingin Pak Ben sampaikan pada pemuda Indonesia” jawabnya.
Tak terasa kembali menetes air matanya, membuat aku merasa iba.
Setelah pertemuan itu tiada kutemukan lagi lelaki tua itu, walaupun terus kucari dirinya di sekitar taman itu hingga hari ini, tapi tak mampu aku menemukannya.
Begitu puas batinku mengenang masa yang telah berlalu itu, aku tersadar dari lamun fikirku, kini aku berdiri di pemakaman yang ditunjuk lelaki tua itu di pertemuan terakhirku dengannya.
Aku terdiam dan terpaku begitu sadar bahwa diriku telah berada di depan sebuah nisan tua yang tidak terawat lagi. Kali ini aku membisu bukan dikarenakan lamunanku yang telah berlalu, namun aku terpaku dikarenakan nama yang tertera di atas nisan tersebut. Di atas nisan tersebut tertulis nama yang tidak asing bagi diriku. Ku coba membaca perlahan seraya meyakinkan apa yang ku lihat ini benar
Aku terbata sambil mengeja..
“Ben... Ben... Benjamin Effendie”.
Aku terdiam dan melihat sekitar, terpasung fikirku tatkala aku melihatnya.
Benjamin Effendie wafat 28 Oktober 1973
Lalu bagaimana aku menemuinya setahun yang lalu?
Terdiam diriku dalam lamunan hampa.
Dengan langkah gontai dan fikir kosong, aku berjalan menuju rumahku, tak lagi kupedulikan sekitarku, termasuk tak sempat diriku melihat namaku sendiri juga tertulis tepat dia atas nisan makam di sebelah makam Pak Ben.
April 03, 2008, 8:07:56 PM
Aku memang selalu melintasi daerah tersebut setiap siang sepulang sekolah, satu satunya jalan pulang menuju rumahku yang terletak di perumahan belakang taman tersebut hanyalah jalan tersebut.
Kulihat tugu tua di mana seingatku lelaki tua itu terkadang berdiri di bawahnya seraya memandangi puncaknya dengan tatapan hampa. Aku tidak mengetahui alasan sang lelaki tua melakukan hal tersebut kala itu. Namun, karena begitu besarnya keinginan diriku untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya membuatku mencoba mengikuti apa yang di lakukan sang lelaki tua, memandangi puncak tugu tersebut. Aku melakukan hal tersebut pada mulanya hanya untuk mengetahui alasannya.
Terus kupandangi tugu itu, seraya memikirkan apa yang ada di benak lelaki tua tersebut, hingga akhirnya aku menyadari bahwa tugu tersebut adalah sebuah tugu penghias taman makam yang tidak terperhatikan lagi. Terdiam diriku, begitu sering kulintasi taman itu, baru sekarang aku menyadari taman tersebut adalah sebuah taman makam.
Kucoba mengingat hari-hari pertemuan diriku dengan sang lelaki tua, seraya terus menyusuri taman tersebut. Secara tak sadar aku terlarut dalam lamunanku tentang dirinya.
Kala itu sang lelaki tua yang masih tampak terlihat gagah meski telah mulai di makan usia itu sering menatap keadan anak-anak sekolah dan remaja di sekitar taman tersebut.
Pernah suatu hari, kusaksikan lelaki tersebut memandangi seorang anak berseragam SD. Anak itu berkata pada ayahnya “Pak, mengapa negara kita tidak bisa sehebat Amerika pak?”. Sang ayah pun menjawab dengan senyuman dan berkata “Adinda sayang, mungkin saat ini Indonesia belum bisa sebaik Amerika, karena generasi muda di negara kita belum mampu berjuang dengan hati yang tulus suci Adinda, makanya kamu belajar dengan baik agar bisa menjadikan Indonesia negara yang besar”
Tersenyum sang lelaki tua seraya bersyair ;
Sayu sang sang bayu
Helah tiada biru
Bagai tiada berpadu
Lenyap, larut dalam kalbu
Begitu lelah jiwaku
Tatkala menatap negriku
Mengapa negriku
Tak mampu terus bersatu
Seringkali negriku
Menangis dengan pilu
Adakah arti sumpah itu
Adakah makna janji itu
Kini kian berlalu
Semangat pemuda dahulu
Mengapa!
Dalam hati aku berfikir “apakah lelaki tua itu sudah gila, berkata tidak jelas tanpa sebab yang dapat kuterima dengan akal”. Namun sesaat berlalu, kuresapi ucapan itu, aku merenung mengapa lelaki tua itu bersyair bagai terpasung dalam kesedihan. Kucoba menyelami syair tersebut, hingga akhirnya setelah tak kulihat lagi lelaki tua itu berada di sekitarku, aku mulai mengerti pesan tersirat dalam syair tersebut. Beberapa hari yang akan datang, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kucintai ini akan memperingati sumpah pemuda, suatu sumpah yang mulai memudar maknanya saat ini, begitu fikirku saat itu.
Dua hari berselang setelah kulihat lelaki itu bersyair, kudapati lelaki tua tersebut memandangi seorang remaja berandal yang memang cukup aku kenal, karena dia adalah warga sekitar taman yang sering kulalui tersebut, yang menjadi berandal dikarenakan perceraian orang tuanya.
Kala itu, kudengar berandal itu mengucapkan kata yang semestinya tidak layak terucap di tempat umum yang sering di lalui anak anak sepulang sekolah. Setelah aku mengamati, aku baru tahu ternyata dia tengah mencaci seorang pengendara sepeda motor yang telah berlalu menjauhi remaja berandal tersebut. Awalnya aku hampir tidak memperdulikan kejadian tersebut karena aku menganggap hal tersebut bukan hal yang aneh. Karena menurutku hal itu adalah hal yang biasa di lakukan oleh seorang berandal seperti remaja tersebut. Namun begitu aku ingin berlalu, sepintas kulihat sang lelaki tua tersenyum seraya menunjuk ke arah berandal tadi yang akhirnya membuat diriku mengalihkan kembali perhatianku pada remaja itu.
Kuamati remaja yang terkesan acuh itu, kulihat dia tengah menolong wanita tua, termenung diriku, sesaat kemudian kudekati dan kubantu menolong wanita tua itu. Walau di sertai rasa takut jikalau si pemuda berandal tersinggung, akhirnya kuberanikan juga menanyakan apa yang terjadi pada wanita tersebut.
Dengan nada kesal berandal tersebut menjawab “Pengendara motor tadi telah menabrak wanita ini, bukannya berhenti untuk membantu wanita ini dia malah pergi meninggalkan begitu saja. Untung saja wanita ini tidak luka serius”.
Terdiam batinku untuk kedua kalinya, aku mengerti sekarang mengapa lelaki tua itu mengamati berandal itu dengan seksama. Aku tersadar bahwa diriku telah salah menilai berandal tadi. Aku telah berprasangka buruk padanya, aku menyangka berandal tadi mencaci karena ingin mencari masalah dengan orang lain, namun pada kenyatannya berandal tadi mencaci dikarenakan kesal kepada pengendara motor tadi yang tidak bertanggung jawab setelah menabrak wanita tua tadi.
Kucoba merenung sejenak, kupahami dan kusadari, kita tidak dapat menilai orang hanya dari luar saja, melainkan kita harus menyelami jiwa dengan tidak berprasangka buruk untuk mengetahui apa yang sesungguhnya tersimpan dalam benak orang tersebut.
Pengendara motor yang baru saja menabrak wanita tersebut, apabila di lihat sepintas dari pakaian dan kendaraannya, dia adalah seorang lelaki yang baik hati yang berhati mulia, namun tiada kusangka ternyata dengan penampilan yang begitu rapi, dia tidak mampu untuk memberanikan diri bertanggung jawab, setelah menabrak wanita tersebut.
Berbeda dengan pemuda berandal yang sepintas terlihat tidak peduli dan terkesan jahat. Aku tidak menyangka berandal tersebut yang malah menolong wanita tadi dan marah kepada pengendara sepeda motor yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Hingga akhirnya pada hari terakhir pertemuanku dengan lelaki tua tersebut kala sepulang upacara peringatan sumpah pemuda setahun lalu aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Kucoba mengajak sang lelaki tua itu berbicara. Kucoba memperkenalkan diri dengan cara paling sopan yang mampu aku lakukan. “Pagi Pak, apa kabar? Nama saya Farid, kalau saya boleh tahu nama Bapak siapa? Sebelumnya saya mau minta maaf Pak, saya sudah lancang, karena terkadang saya suka memperhatikan Bapak.”
Lelaki tua itu menjawabnya dengan senyum seraya berkata “nama kamu Farid ya? nama Bapak, Benjamin Effendie, cukup di panggil Pak Ben. Farid, Pak Ben malah senang kalau kamu bisa memperhatikan Pak Ben.”
Kemudian lelaki tua itu berkata;
Farid, cobalah kamu melihat sekitar, kita belum dapat menjadikan negara kita menjadi negara terbaik, apabila dalam hati para pemuda Indonesia tiada mampu berjuang sekuat tenaga dengan hati tulus ikhlas. Belum lagi sekarang sudah begitu banyak bermunculan peristiwa peristiwa yang menyayat hati bapak, begitu banyak perkelahian antar pelajar, kerusuhan saat para pemuda melakukan demonstrasi, namun bukan hanya itu saja yang melukai Pak Ben, yang lebih membuat kakek sedih adalah banyaknya pergaulan bebas dan pemakaian narkoba oleh pemuda Indonesia, bapak sedih nak.mengapa begitu banyak remaja sekarang terjerumus ke dalam dunia hitam yang secara tidak langsung merusak negara kita, Pak Ben tidak rela barang sedikit pun.
Tak terasa air mata sang lelaki tua tadi menetes membasahi wajahnya yang sebelumnya tampak tegar.
“Pak Ben jangan sedih ya” jawabku singkat.
“Bagaimana Pak Ben tidak sedih melihat keadaan negara yang sejak dahulu saya mimpikan ini?”.
Beranjak lelaki tersebut dari tempat duduknya, sepintas kemudian tersenyum sambil menunjuk makam belakang taman.
Terdiam diriku, kurasakan senyum yang begitu tulus dari dasar hati yang menghiasi wajahnya, teriris bainku tatkala kulihat wajah terluka yang menatap hampa dunia.
“Kini Pak Ben tenang, Pak Ben berharap, suatu saat kamu dapat mengerti apa yang ingin Pak Ben sampaikan pada pemuda Indonesia” jawabnya.
Tak terasa kembali menetes air matanya, membuat aku merasa iba.
Setelah pertemuan itu tiada kutemukan lagi lelaki tua itu, walaupun terus kucari dirinya di sekitar taman itu hingga hari ini, tapi tak mampu aku menemukannya.
Begitu puas batinku mengenang masa yang telah berlalu itu, aku tersadar dari lamun fikirku, kini aku berdiri di pemakaman yang ditunjuk lelaki tua itu di pertemuan terakhirku dengannya.
Aku terdiam dan terpaku begitu sadar bahwa diriku telah berada di depan sebuah nisan tua yang tidak terawat lagi. Kali ini aku membisu bukan dikarenakan lamunanku yang telah berlalu, namun aku terpaku dikarenakan nama yang tertera di atas nisan tersebut. Di atas nisan tersebut tertulis nama yang tidak asing bagi diriku. Ku coba membaca perlahan seraya meyakinkan apa yang ku lihat ini benar
Aku terbata sambil mengeja..
“Ben... Ben... Benjamin Effendie”.
Aku terdiam dan melihat sekitar, terpasung fikirku tatkala aku melihatnya.
Benjamin Effendie wafat 28 Oktober 1973
Lalu bagaimana aku menemuinya setahun yang lalu?
Terdiam diriku dalam lamunan hampa.
Dengan langkah gontai dan fikir kosong, aku berjalan menuju rumahku, tak lagi kupedulikan sekitarku, termasuk tak sempat diriku melihat namaku sendiri juga tertulis tepat dia atas nisan makam di sebelah makam Pak Ben.
April 03, 2008, 8:07:56 PM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar